::Kesehatan yang dialihkan::

October 9, 2011 at 4:15 pm Leave a comment

Setiap kita mendengar kata farmasi, yang terlintas di otak kita
adalah kesehatan dan obat. Sebuah kenyataan yang memang tak bisa
dipungkiri. Dan mungkin ini yang sering menyempitkan pemikiran kita
sendiri sebagai seorang farmasis bahwa farmasis terbatas pada
kesehatan. Saya tidak ingin turut mengkorelasikan secara langsung
antara farmasi dengan kesehatan ataupun menafikkan korelasi ini. Tapi
saya memandang ada sebuah korelasi yang unik setelah saya melihat lebih
apa yang ada di dunia farmasi sendiri.

Untuk mudahnya
kita berbicara tentang kesehatan terlebih dahulu. Apabila kita melihat
negeri kita sendiri, tampaknya kesehatan menjadi kendala yang besar dan
beban tersediri bagi pemerintah. Tidak usah kita berbicara tentang
kesehatan di pulau-pulau seberang atau daerah-daerah terpencil atau
pelosok-pelosok negeri ini. Cukup lihat tetangga kota kita
masing-masing, kampung-kampung pinggiran, atau bahkan di dalam kota
kita sendiri, tampaknya kesehatan memang merupakan permasalahan yang
cukup besar.

Berbicara tentang kesehatan berarti
berbicara juga tentang kesadaran diri. Sedangkan kesadaran diri
tergantung pada dua faktor besar yaitu pendidikan dan ekonomi. Kalau
kita perhatikan, orang-orang dengan pendidikan tinggi cenderung
memiliki kesadaran yang lebih lebar dalam menjaga kesehatan. Sedangkan
ekonomi lebih berpengaruh terhadap kemampuan untuk membeli kesehatan
itu sendiri. Dua hal inilah yang terlebih dahulu perlu diperhatikan
disamping ketersediaan fasilitas-fasilitas pendukung kesehatan itu
sendiri.

Saya pernah ikut penyelenggaraan klinik gratis
yang digagas oleh teman-teman dari Fakultas Kesehatan Universitas
Padjadjaran. Saya lihat bahwa tingkat pendidikan masyarakat telah
teratasi melalui tangan-tangan pemegang kasta tertinggi tingkat
pendidikan di Indonesia, yaitu perguruan tinggi. Kasta tersebut terdiri
dari mahasiswa, dosen, dan yang tertinggi adalah profesor. Saya
menggolongkannya berdasarkan pada pandangan masyarakat secara umum. Dan
tiap golongan pada kasta tertinggi ini memiliki tingkat keterpercayaan
tersendiri bagi masyarakat seiring dengan tingginya tingkat tersebut.
Masyarakat akan lebih percaya pada profesor dibandingkan dosen ataupun
mahasiswa. Di sinilah kasta tersebut berperan, sebagai panutan bagi
masyarakat melalui penyampaian yang baik, penyuluhan tentang kesehatan,
dan upaya lain.

Dengan begitu, permasalahan pendidikan
tidak akan menjadi faktor besar yang mempengaruhi tingkat kesehatan,
tentunya dengan peran kita sebagai pemilik kasta pendidikan tertinggi
yang diakui masyarakat. Kesadaran yang perlu dibentuk adalah kesadaran
diri pada kasta ini, untuk mau peduli dengan dunia di luar kandangnya.
Kesadaran yang masih sangat jarang saya lihat karena kesibukannya dalam
urusan di dalam kandang sendiri, kuliah, penelitian, proyek, atau
apalah itu yang saya rasa belum tentu berarti bagi masyarakat.

Logikanya
perguruan tinggi dibangun pertama kalinya untuk mencetak
manusia-manusia yang mampu memecahkan permasalahan di masyarakatnya.
Seandainya tidak pernah terlatih untuk memecahkan permasalahan ketika
masa pendidikannya, bagaiamana nanti bisa memecahkan masalah di
masyarakat? Bagaimana mungkin seorang pendidik, atau katakanlah dosen
dan profesor, akan mengajari mahasiswanya untuk memecahkan permasalahan
di masyarakat apabila sejengkal pun tidak pernah melangkahkan kakinya
ke masyarakat?

Oleh karenanya, orang mengatakan bahwa
dunia kampus adalah dunia yang imajiner, semacam dunia mimpi yang penuh
dengan sesuatu yang ideal tanpa diiringi idealisme penghuninya untuk
melaksanakan perannya di masyarakat. Bahkan, permasalahan tersebut tak
pernah terbayang di benak penghuninya, kecuali apa yang terlihat di TV,
koran, atau internet yang sebagian besar telah dibubuhi kepentingan
pemilik media tersebut. Dengan kata lain, pemilik kasta tertinggi
pendidikan yang merupakan kastanya orang-orang pintar telah dibohongi
karena tidak mau melihat langsung kondisinya di masyarakat.

Inilah
pentingnya sebuah kepedulian, bukan hanya sekedar nama, tapi lebih
kepada peran dan manfaat. Inilah sikap yang banyak ditinggalkan karena
lalainya akan tujuan dididiknya mahasiswa. Dunia pendidikan tidak lebih
dari sekedar ajang komersialisasi. Saya tidak bilang kampus dijadikan
tempat mencari uang oleh petinggi kampus, tidak juga memaksudkan kampus
hanya boleh dimasuki oleh orang-orang berduit (saya bukan aktivis yang
suka menggembor-gemborkan keburukan kebijakan). Tapi yang saya
maksudkan adalah kampus dijadikan oleh masyarakat di dalamnya,
khususnya mahasiswa, sebagai tempat untuk mempermudah mencari uang dan
gaji besar nantinya. Atau bisa dikatakan bahwa kampus sebagai tempat
komersialisasi diri (semoga para aktivis itu sadar untuk tidak
melakukan ini).

Komersialisasi diri ini yang membawa
mahasiswanya untuk berlaku ideal pada satu tempat tanpa diiringi
idealisme untuk berbagi. Tak bisa dipungkiri bahwa tujuan yang ingin
dicapai adalah nilai dan pengakuan. Saya tidak menafikkan kalau nilai
itu penting, sebagai sebuah parameter standar dalam dunia pendidikan
yang menentukan kesiapan mahasiswa untuk terjun ke masyarakat,
sekalipun sebetulnya tidak bisa dijadikan standar mutlak sebuah
kesiapan.

Inilah yang perlu dibenahi, sikap. Sikap yang
perlu dibangun oleh civitas akademika perguruan tinggi, tak terkecuali.
Bermula dari sebuah sikap dan berakhir pada tercapainya tujuan melalui
seribu jalan yang bisa ditempuh. Dunia kesehatan, pemikiran yang memang
perlu dipikirkan kembali karena begitu banyak faktor yang
mempengaruhinya, salah satunya bermula dari sebuah pendidikan.

jelas sudah. pendidikan kata kuncinya

engkong taufik, ikut share yaa

Entry filed under: .pharmacy., .sociality.. Tags: , , , , , .

::pathetic:: ::kemana larinya sarjana kita::

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


yangoi.selalu.ceria.

we can share everything. love.laugh. happy.friendship.and sad stories even the darkest one.

.im a deadliner.

October 2011
M T W T F S S
« Sep    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

.stories.

.stories.

tweets!

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

RSS deep pathetic to writing

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.