Archive for October 9, 2011

::Kertas kuning::

pulang dari kondangan itu selalu capek entah mengapa. mungkin karena berat badan yang turun ini (cieh. sombong. yes. akhirnya!) bertumpu pada wedges setinggi 7-9an cm. but im happy. CONGRADULATION OCTOPUS. dan CONGRATULATION, happy wedding for Rina Imaniar and Wildan. semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah. doa kami menyertai kalian :)

okay, today’s fashion of me. i love to design traditional-but-modern-dress!

fashion in crime!

here we are (panitia yang maka duluan, makan semua menu, dll dll. sungguh, terlaluu..)

some day. ill miss you all SH!

balik lagi, sebenernya bukan ini yang mau diceritain. setelah sampai dikosan gue langsung tepar. tidur. bangun-bangun jam setengah 9 malem. waw. am i so tired???  suddenly my phone was ringing. ternyata dari panitia patient counseling competition UGM. mengabarkan bahwasannya quota penuh. dan gue salah satu yang ‘didepak’. hehe. yah salah gue sih ga buru bayar dan menyelesaikan prosedur registrasi (sibuk sidang euy. jadi sidang yang disalahin? *plak). huff.. sedikit menghela nafas panjang.. untuk tahun ini berarti gue tidak bisa belajar konseling di kompetisi-kompetisi macem ini. yah apa daya tak dinyana. no problemo Girl! kalo Allah bilang ga, ya ga. jadi ini sebenernya kali kedua. yang pertama, PCE, alhamdulillah jadi salah satu wakil ITB buat PCE november ini. tapi tapi tapi dikarenakan status saya yang baru ini (alumni bukan mahasiswa pun tidak juga), my best lecturer ive ever met ga mau menandatangi surat keterangan mahasiswa. gue pun mengabarkan panitia kalo gue ga bisa ikut. but  im happy! orang yang akan menggantikan gue adalah ayya. yes ayya you can! ill support you all perwakilan ITB! (walau saya ga bisa ikut tapi saya mau ya ikut latihan2nya :D ). sampai jumpa di EGYPT! Allahumma amin.. seketika gue berpikir, yap berarti masih ada kesempatan buat punya pengalaman patient counseling di PCC. sekali lagi, Allah berkata ga, ya ga. ya gapapa nduk.. :) . buat temen2 yang berangkat, yang akan berkarya. berjuanglah temans! dan jangan lupa diaplikasikan saat di dunia ‘nyata’ dan ditularkan ke yang lain. termasuk saya. very proud of you <3.

setelah di telpon mata gue tertuju pada tempelan kertas kuning di dinding kamar, isinya seperti ini temans (ah. maaf saya sungguh norak. inilah saya sesungguhnya) :

you can be a good leader. Bismillahrrahmanirrahim. jadi pemimpin yang amanah ngoi! :) kepentingan bersama dulu

lagi-lagi Allah itu Maha pengasih.. Tuhan memberikan gue kesempatan untuk menuai ladang amal ini karena gue udah janji. gue udah korupsi waktu hampir sebulan untuk seminar dan sidang. abis lulus segera menyelesaikan amanah. but dont leave me alone God, i cant do this without You. temans, semangat mengabdi! bon voyage! kesempatan tidak datang dua kali. i really love you all, we are in the same passion! :D . may Allah always bless you.

Al Ma’arij: 19-35

19. sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh

20. apabila dia ditimpa kesusahan, dia berkeluh kesah

21. dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir

22. kecuali orang-orang yang melaksanakan sholat

23. mereka yang tetap setia melaksanakan sholatnya

24. dan orang-orang yang dalam hartanya disiapkan bagian tertentu,,

25. bagi orang (miskin) yang meminta dan tidak meminta

26. dan orang-orang yang mempercayi hari pembalasan

27. dan orang-orang yangtakut terhadap azab Tuhannya

28. sesungguhnya terhadap azab Tuhan mereka, tidak ada seseorang yang merasa aman (dari kedatangannya)

29. dan orang-orang yang memelihara kemaluannya

30. kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki

31. maka barang siapa yang mencari diluar itu (zina, homoseks, lesbian), mreka itulah orang-orang yang melampaui batas

32. dan orang-orang yang memelihara amanah dan janjinya

33. dan orang-orang yang berpegang teguh terhadap kesaksiannya

34. dan orang-orang yang memelihara sholatnya

35. mereka itu dimuliakan dalam surga

is it too much to ask for?

October 9, 2011 at 5:25 pm Leave a comment

::kemana larinya sarjana kita::

nice post form my friend! oke gan!

Suatu ketika saya pernah pergi ke Desa Baros, sebuah desa kecil di  daerah Bandung Selatan. Di sana saya ingin mengadakan klinik gratis tiap minggunya bersama teman-teman farmasi yang lain tapi belum terealisasi sampai sekarang hanya karena permasalahan perijinan. Entahlah, mungkin orang sekarang lebih peduli kepada birokrasi dan nama dari pada konten atau esensi yang ingin dibawa. Tetapi di sini saya tidak ingin membahas permasalahan itu. Ada hal lain yang lebih menarik bagi saya.

Suatu ketika saya dan teman-teman melihat gedung yang digunakan sebagai puskesmas keliling, yang hanya buka sekali dalam seminggu. Kami temui berbagai macam obat yang terdapat di salah satu ruang gedung tersebut. Sebagai seorang calon farmasis tentunya kami ingin tahu obat apa saja yang ada di sana yang selanjutnya kami jadikan sebagai bahan kajian untuk mengetahui penyakit-penyakit yang umumnya diderita oleh masyarakat desa tersebut.

Yang menarik bagi saya bukan tentang penyakit yang banyak diderita masyarakat tersebut tapi tentang penampilan obat tersebut tentunya dari sisi pandang saya yang mempunyai latar belakang teknologi farmasi/farmasetika). Saya temui sebuah obat yang ering dan mudah kita temui sehari-hari. Jika anda berpikir tentang parasetamol maka anda benar. Parasetamol tersebut dalam bentuk tablet. Yang pertama kali membuat saya tertarik adalah barcode bertuliskan harga obat tersebut, 50 ribu rupiah dalam satu botol berisi 1000 tablet. Luar biasa saya pikir, obat seharga 50 ribu rupiah, murah meriah.

Rasa penasaran saya tak berhenti sampai di situ. Saya ingin mengetahui seperti apa tablet yang satu bijinya seharga 50 rupiah tersebut. Luar biasa lagi, setelah saya amat-amati banyak sekali debu/partikel yang terdapat di permukaan obat tersebut. Dan ketika tak sengaja ada yang terjatuh, booom….terbelahlah dia dengan seketika. Ya, inilah obat generik. Mungkin bisa dibilang generik dari generiknya generik. Di sini ada sebuah korelasi yang luar biasa (sekali lagi saya katakan luar biasa dan nanti anda akan tahu kenapa). Harga murah menghasilkan kualitas obat seperti yang telah saya ceritakan. Dalam dunia bisnis dan industi, hal yang paling mudah dilakukan adalah mencari bahan baku semurah mungkin untuk memperbesar margin keuntungan. Tapi farmasi tidak hanya tentang bisnis. Di dalamnya terkandung tanggung jawab sosial juga, apalagi bagi seseorang yang telah disumpah sebagai apoteker.

Seperti yang telah dipelajari dalam dunia farmasi bahwa tekologi pembuatan farmasi merupakan penunjang diantarkannya obat kepada target kerja obat. Tentu saja sediaan tablet memiliki proses yang panjang untuk mencapai target kerjanya. Perbedaan kondisi fisik suatu tablet akan berpengaruh kepada proses-proses farmasetika dan farmakokinetika dalam tubuh. Dengan kondisi tablet yang buruk, tentunya kita tahu apa konsekuensi di balik semua itu.

Hal yang luar biasa adalah kita sebagai seorang mahasiswa atau yang dulunya sebagai mahasiswa tentu tahu akan hal itu. Itu yang senantiasa kita pelajari dalam setiap kuliah-kuliah. Semuanya harus dibuat sempurna. Formulasi sempurna, perhitungan semmpurna, penimbangan sempurna, pengukuran sempurna, dan tentu saja hasil yang sempurna. Teramat beda dengan keadaan di luar kampus yang ternyata tidak ada bekas-bekas kesempurnaan itu, kalau boleh saya bilang.

Kalau saya pikir, dengan kualitas tablet yang semacam itu, mungkin orang akan sembuh bukan karena efek yang diberikan oleh obat, tapi lebih karena sugesti yang timbul dengan meminum obat tersebut. Teringat dengan masa kecil ketika datang ke puskesmas untuk berobat. Setiap saya datang selalu ada orang yang meminta disuntik. Waktu itu saya bertanya-tanya kenapa mereka selalu minta disuntik? Dan jawabannya saya temukan ketika ada tetangga yang bercerita kepada orang tua saya, ”saya pusing-pusing, minta suntik sama dokter itu langsung sembuh.” Ya, jawabannya adalah sugesti, dan ini akan banyak anda temui di kampung-kampung. Sugesti bukan hanya karena “suntik” tapi juga “dokter”, yang sebetulnya adalah mantri suntik atau perawat. Saya tidak menyalahkan sugesti dalam dunia pengobatan karena itu termasuk hal penting, tapi tidak terpikirkah kita, kenapa farmasis tidak membuat plasebo saja kalau permasalahannya hanya sugesti? Masyarakat tidak akan ada yang tahu kalau obat yang mereka minum adalah plasebo, bukan? Tapi seorang farmasis tidak bisa mengabaikan tanggung jawab sosial yang dibebankan.
Tanggung jawab sosial yang seharusnya menciptakan sesuatu yang terbaik untuk masyarakat, seperti yang sering kita temui di kampus-kampus dengan segala “kesempurnaannya” itu.

Tak habis pikir saya, ketika ITB (kampus saya) meluluskan tidak kurang dari 100 mahasiswa farmasi setiap tahunnya, dan entah ada berapa di universitas yang lainnya. Lalu kemana larinya setiap senti teknologi sediaan yang telah mereka pelajari? Bukankah universitas, sebagai dunia yang begitu imajiner (istilah kami), telah mengajarkan banyak hal tentang kesempurnaan? Nilai sempurna dan jawaban sempurna. Inilah yang hilang dari sini, suatu pandangan tentang dunia nyata di luar sana yang lebih dinamis. Yang berujung pada terseretnya kita pada dinamika kehidupannya dan membuat kita lupa dengan apa yang diajarkan. seperti berkata pada diri sendiri,”aku disana hanya mencari sesuatu dan sesuatu itu kini tak berguna lagi.” Inilah yang sering sekali hilang: sikap. Dan mungkin ini juga merupakan dampak dari pengajaran yang berbasis pada “kesempurnaan” tanpa memperhatikan bagaimana bersikap dalam “memandang keluar”, atau mungkin juga karena kita jarang sekali “melihat” ke luar sana.

Ini hanyalah sebuah contoh dari sekian banyak hal di luar sana. Di dunia farmasi yang kecil ini, mungkin ini hanya satu dari berjuta permasalahan yang seharusnya tidak menjadi masalah bagi kita. Di luar farmasi apa lagi, pasti lebih banyak permasalahan-permasalahan. Padahal banyak sekali universitas-universitas yang telah meluluskan sarjananya dengan bermodalkan pengetahuan yang telah dipelajari bertahun-tahun lamanya. Dan satu pertanyaan yang selalu terngiang-ngiang di pikiranku
adalah “kemana larinya sarjana kita?”.

October 9, 2011 at 4:18 pm Leave a comment

::Kesehatan yang dialihkan::

Setiap kita mendengar kata farmasi, yang terlintas di otak kita
adalah kesehatan dan obat. Sebuah kenyataan yang memang tak bisa
dipungkiri. Dan mungkin ini yang sering menyempitkan pemikiran kita
sendiri sebagai seorang farmasis bahwa farmasis terbatas pada
kesehatan. Saya tidak ingin turut mengkorelasikan secara langsung
antara farmasi dengan kesehatan ataupun menafikkan korelasi ini. Tapi
saya memandang ada sebuah korelasi yang unik setelah saya melihat lebih
apa yang ada di dunia farmasi sendiri.

Untuk mudahnya
kita berbicara tentang kesehatan terlebih dahulu. Apabila kita melihat
negeri kita sendiri, tampaknya kesehatan menjadi kendala yang besar dan
beban tersediri bagi pemerintah. Tidak usah kita berbicara tentang
kesehatan di pulau-pulau seberang atau daerah-daerah terpencil atau
pelosok-pelosok negeri ini. Cukup lihat tetangga kota kita
masing-masing, kampung-kampung pinggiran, atau bahkan di dalam kota
kita sendiri, tampaknya kesehatan memang merupakan permasalahan yang
cukup besar.

Berbicara tentang kesehatan berarti
berbicara juga tentang kesadaran diri. Sedangkan kesadaran diri
tergantung pada dua faktor besar yaitu pendidikan dan ekonomi. Kalau
kita perhatikan, orang-orang dengan pendidikan tinggi cenderung
memiliki kesadaran yang lebih lebar dalam menjaga kesehatan. Sedangkan
ekonomi lebih berpengaruh terhadap kemampuan untuk membeli kesehatan
itu sendiri. Dua hal inilah yang terlebih dahulu perlu diperhatikan
disamping ketersediaan fasilitas-fasilitas pendukung kesehatan itu
sendiri.

Saya pernah ikut penyelenggaraan klinik gratis
yang digagas oleh teman-teman dari Fakultas Kesehatan Universitas
Padjadjaran. Saya lihat bahwa tingkat pendidikan masyarakat telah
teratasi melalui tangan-tangan pemegang kasta tertinggi tingkat
pendidikan di Indonesia, yaitu perguruan tinggi. Kasta tersebut terdiri
dari mahasiswa, dosen, dan yang tertinggi adalah profesor. Saya
menggolongkannya berdasarkan pada pandangan masyarakat secara umum. Dan
tiap golongan pada kasta tertinggi ini memiliki tingkat keterpercayaan
tersendiri bagi masyarakat seiring dengan tingginya tingkat tersebut.
Masyarakat akan lebih percaya pada profesor dibandingkan dosen ataupun
mahasiswa. Di sinilah kasta tersebut berperan, sebagai panutan bagi
masyarakat melalui penyampaian yang baik, penyuluhan tentang kesehatan,
dan upaya lain.

Dengan begitu, permasalahan pendidikan
tidak akan menjadi faktor besar yang mempengaruhi tingkat kesehatan,
tentunya dengan peran kita sebagai pemilik kasta pendidikan tertinggi
yang diakui masyarakat. Kesadaran yang perlu dibentuk adalah kesadaran
diri pada kasta ini, untuk mau peduli dengan dunia di luar kandangnya.
Kesadaran yang masih sangat jarang saya lihat karena kesibukannya dalam
urusan di dalam kandang sendiri, kuliah, penelitian, proyek, atau
apalah itu yang saya rasa belum tentu berarti bagi masyarakat.

Logikanya
perguruan tinggi dibangun pertama kalinya untuk mencetak
manusia-manusia yang mampu memecahkan permasalahan di masyarakatnya.
Seandainya tidak pernah terlatih untuk memecahkan permasalahan ketika
masa pendidikannya, bagaiamana nanti bisa memecahkan masalah di
masyarakat? Bagaimana mungkin seorang pendidik, atau katakanlah dosen
dan profesor, akan mengajari mahasiswanya untuk memecahkan permasalahan
di masyarakat apabila sejengkal pun tidak pernah melangkahkan kakinya
ke masyarakat?

Oleh karenanya, orang mengatakan bahwa
dunia kampus adalah dunia yang imajiner, semacam dunia mimpi yang penuh
dengan sesuatu yang ideal tanpa diiringi idealisme penghuninya untuk
melaksanakan perannya di masyarakat. Bahkan, permasalahan tersebut tak
pernah terbayang di benak penghuninya, kecuali apa yang terlihat di TV,
koran, atau internet yang sebagian besar telah dibubuhi kepentingan
pemilik media tersebut. Dengan kata lain, pemilik kasta tertinggi
pendidikan yang merupakan kastanya orang-orang pintar telah dibohongi
karena tidak mau melihat langsung kondisinya di masyarakat.

Inilah
pentingnya sebuah kepedulian, bukan hanya sekedar nama, tapi lebih
kepada peran dan manfaat. Inilah sikap yang banyak ditinggalkan karena
lalainya akan tujuan dididiknya mahasiswa. Dunia pendidikan tidak lebih
dari sekedar ajang komersialisasi. Saya tidak bilang kampus dijadikan
tempat mencari uang oleh petinggi kampus, tidak juga memaksudkan kampus
hanya boleh dimasuki oleh orang-orang berduit (saya bukan aktivis yang
suka menggembor-gemborkan keburukan kebijakan). Tapi yang saya
maksudkan adalah kampus dijadikan oleh masyarakat di dalamnya,
khususnya mahasiswa, sebagai tempat untuk mempermudah mencari uang dan
gaji besar nantinya. Atau bisa dikatakan bahwa kampus sebagai tempat
komersialisasi diri (semoga para aktivis itu sadar untuk tidak
melakukan ini).

Komersialisasi diri ini yang membawa
mahasiswanya untuk berlaku ideal pada satu tempat tanpa diiringi
idealisme untuk berbagi. Tak bisa dipungkiri bahwa tujuan yang ingin
dicapai adalah nilai dan pengakuan. Saya tidak menafikkan kalau nilai
itu penting, sebagai sebuah parameter standar dalam dunia pendidikan
yang menentukan kesiapan mahasiswa untuk terjun ke masyarakat,
sekalipun sebetulnya tidak bisa dijadikan standar mutlak sebuah
kesiapan.

Inilah yang perlu dibenahi, sikap. Sikap yang
perlu dibangun oleh civitas akademika perguruan tinggi, tak terkecuali.
Bermula dari sebuah sikap dan berakhir pada tercapainya tujuan melalui
seribu jalan yang bisa ditempuh. Dunia kesehatan, pemikiran yang memang
perlu dipikirkan kembali karena begitu banyak faktor yang
mempengaruhinya, salah satunya bermula dari sebuah pendidikan.

jelas sudah. pendidikan kata kuncinya

engkong taufik, ikut share yaa

October 9, 2011 at 4:15 pm Leave a comment


yangoi.selalu.ceria.

we can share everything. love.laugh. happy.friendship.and sad stories even the darkest one.

.im a deadliner.

October 2011
M T W T F S S
« Sep    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

.stories.

.stories.

tweets!

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

RSS deep pathetic to writing

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.